Taliban Tuntut Pasukan Asing Tinggalkan Afghanistan dalam 18 Bulan

loading…

KABUL – Pejabat Taliban mengatakan negosiator Amerika Serikat (AS) telah menyapakati rancangan pakta perdamaian yang menetapkan penarikan pasukan asing dari Afghanistan dalam waktu 18 bulan. Kesepakatan ini berpotensi mengakhiri perang terpanjang yang pernah dilakukan oleh AS.

Rincian rancangan itu diberikan kepada Reuters oleh sumber-sumber Taliban pada akhir enam hari perundingan dengan utusan perdamaian khusus AS, Zalmay Khalilzad, di Qatar yang bertujuan untuk mengakhiri perang. Perang di Afghanistan telah berlangsung lebih dari 17 tahun sejak pasukan pimpinan AS menyerbu Afghanistan.

Rincian rancangan itu menetapkan bahwa pasukan asing akan pergi dalam waktu 18 bulan sejak perjanjian ditandatangani.

Baca Juga:

“Dalam 18 bulan, jika pasukan asing ditarik dan gencatan senjata diterapkan, maka aspek lain dari proses perdamaian dapat diterapkan,” kata seorang sumber Taliban, mengutip dari sebagian rancangan seperti dilansir dari Reuters, Minggu (27/1/2019).

Menurut sumber-sumber itu, Taliban menjamin bahwa Afghanistan tidak akan diizinkan digunakan oleh militan al-Qaeda dan Negara Islam (ISIS) untuk menyerang AS dan sekutunya sesuai dengan permintaan awal dari Washington.

Baca: Taliban Setuju Larang Al-Qaida dan ISIS Bercokol di Afghanistan

Mereka mengatakan kesepakatan itu juga termasuk ketentuan gencatan senjata, tetapi mereka belum mengonfirmasi jadwal dan hanya akan membuka pembicaraan dengan perwakilan Afghanistan begitu gencatan senjata diterapkan.

Hingga sekarang, Taliban telah berulang kali menolak tawaran pemerintah Afghanistan untuk mengadakan pembicaraan, dan lebih memilih untuk berbicara langsung dengan pihak AS, yang dianggap sebagai musuh utamanya.

Klausul lain dalam rancangan tersebut termasuk perjanjian pertukaran dan pembebasan tahanan, penghapusan larangan perjalanan internasional terhadap beberapa pemimpin Taliban oleh Washington dan prospek pemerintah sementara Afghanistan setelah gencatan senjata.

Klausul untuk membentuk pemerintah sementara di Afghanistan datang bersamaan dengan sejumlah politisi top termasuk Presiden Afghanistan Ashraf Ghani telah mengajukan diri untuk pemilu presiden pada bulan Juli nanti. Ghani telah berulang kali menolak tawaran untuk menyetujui pembentukan pemerintahan sementara.

Sumber-sumber Taliban juga mengkonfirmasi ketetapan dalam rancangan yang memiliki implikasi lebih luas untuk hubungan Afghanistan dengan tetangga-tetangganya, terutama Pakistan, India dan Cina.

Mereka mengatakan kesepakatan itu mencakup ketentuan bahwa gerilyawan separatis dari Balochistan, provinsi Pakistan barat daya yang kaya sumber daya, tidak akan diizinkan menggunakan tanah Afghanistan untuk menargetkan Pakistan.

Tidak jelas apakah rancangan tersebut dapat diterima oleh kedua belah pihak atau kapan akan diselesaikan dan ditandatangani.

Meskipun tidak ada pernyataan bersama yang dikeluarkan, utusan AS Khalilzad mentweet bahwa pembicaraan telah membuat kemajuan yang signifikan dan akan segera dilanjutkan. Ia menambahkan bahwa ia berencana untuk melakukan perjalanan ke Afghanistan untuk bertemu dengan pejabat pemerintah.

“Pertemuan di sini (di Qatar) lebih produktif daripada di masa lalu. Kami telah membuat kemajuan yang signifikan pada masalah-masalah vital,”tulisnya, seraya menambahkan bahwa banyak masalah yang masih membutuhkan pekerjaan untuk diselesaikan.

“Tidak ada yang disepakati sampai semuanya disepakati dan semuanya harus mencakup dialog intra-Afghanistan dan gencatan senjata yang komprehensif,” tulisnya kembali.

Pernyataan Taliban yang dikeluarkan juga mencatat kemajuan dalam penarikan pasukan dan masalah-masalah lain tetapi mengatakan diperlukan lebih banyak negosiasi dan konsultasi internal.

“Kebijakan Emirat Islam selama pembicaraan sangat jelas – sampai masalah penarikan pasukan asing dari Afghanistan disepakati, kemajuan dalam masalah lain tidak mungkin,” kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, menggunakan nama lain kelompok itu.

Pembicaraan lebih lanjut tentang rancangan tersebut diharapkan terjadi pada bulan Februari mendatang, sekali lagi di ibukota Qatar Doha, kata sumber-sumber Taliban.

Mereka mengharapkan Taliban akan dipimpin oleh kepala politik baru Mullah Abdul Ghani Baradar, pendiri gerakan itu dan mantan komandan militer yang dibebaskan dari penjara di Pakistan tahun lalu.

Berita kemajuan dalam kesepakatan ini muncul ketika Taliban terus melakukan serangan hampir setiap hari terhadap pemerintah Afghanistan yang didukung Barat dan pasukan keamanannya.

Terakhir, Taliban mendalangi sebuah serangan mematikan ke sebuah basis intelijen Afghanistan. Serangan itu menewaskan 45 orang yang mayoritas korbannya adalah personil militer. Namun sejumlah laporan menyebut serangan itu menewaskan 100 orang.

Baca: Serang Pangkalan Militer, Taliban Bantai 100 Orang Lebih

(ian)