Taliban Lanjutkan Perundingan dengan AS Pasca Serang Pangkalan Militer

loading…

Kelompok militan Taliban menyatakan perundingan dengan diplomat AS dilanjutkan setelah melancarkan serangan mematikan ke sebuah pangkalan militer. Foto/Istimewa

KABUL – Kelompok militan Taliban mengeluarkan pernyataan bahwa mereka telah memulai kembali perundingan dengan para diplomat Amerika Serikat (AS) di Doha, Qatar. Pernyataan itu dikeluarkan pasca serangan mematikan di Wardak dan ditengah mandeknya pembicaraan damai selama berminggu-minggu.

“Menyusul penerimaan Amerika atas agenda untuk mengakhiri invasi ke Afghanistan dan mencegah Afghanistan digunakan terhadap negara-negara lain di masa depan, pembicaraan dengan perwakilan Amerika berlangsung hari ini di Doha,” kata juru bicara Taliban dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari New York Times, Selasa (22/1/2019).

Sebelumnya, Taliban melancarkan serangan di kampus Direktorat Keamanan Nasional (NDS) pada Senin kemarin. Serangan ini adalah serangan terbaru dari serangkaian serangan mematikan dalam beberapa bulan terakhir oleh Taliban, yang telah menguasai sekitar setengah dari Afghanistan. Sejumlah pejabat mengatakan serangan itu menewaskan lebih dari 100 orang.

Baca Juga:

Pembicaraan damai saat ini difokuskan antara Taliban dan AS. Ini membuat pemerintah Afghanistan frustasi karena merasa terpinggirkan.

Taliban telah mengatakan mereka ingin perjanjian dengan AS mengenai masa depan pasukan Amerika di negara itu. Mereka juga menuntut pembebasan para tahanan Taliban sebelum mereka membahas mengenai nasib negara itu dengan pemerintah Afghanistan.

Pada bulan Desember, pemerintahan Trump memerintahkan militer untuk memulai rencana untuk menarik sekitar 7.000 tentara AS dari Afghanistan dalam beberapa bulan mendatang. Langkah ini tampaknya tidak terkoordinasi dengan para perunding Amerika dan mengejutkan para diplomat Barat di Afghanistan.

Namun hingga saat ini penarikan belum dimulai, dan pejabat Departemen Pertahanan AS belum dapat mengklarifikasi berapa banyak pasukan yang akan meninggalkan negara itu atau waktunya.

Komandan tinggi AS di Afghanistan, serta para jenderal senior Amerika yang berkunjung, telah mengecilkan anggapan bahwa penarikan itu sudah dekat.

(ian)