Tak Gentar Diinvasi, Venezuela Latihan Perang Besar-besaran

loading…

Para personel militer Venezuela. Foto/REUTERS

CARACAS – Presiden Nicolas Maduro mengumumkan bahwa Angkatan Bersenjata Nasional Venezuela bersiap melakukan latihan perang besar-besaran pada 10 hingga 15 Februari 2019. Manuver itu untuk menunjukkan bahwa negaranya tidak gentar dengan ancaman invasi asing.

Pengumuman itu muncul setelah Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya mengakui pemimpin oposisi Juan Guaido sebagai presiden interim Venezuela.

Selama latihan perang, kata Maduro, pasukannya akan mensimulasikan pengusiran agresor dan meningkatkan keterampilan mereka dalam mempertahankan wilayah darat dan perairan di negara Amerika Latin tersebut.

Baca Juga:

“Angkatan Bersenjata kami membuat negara kami tidak dapat dijamah,” kata Maduro, dalam konferensi pers hari Jumat, yang dilansir Russia Today, Sabtu (26/1/2019).

Menurutnya, militernya mampu menghadapi setiap agresor yang menginjakkan kaki di tanah Venezuela. Dia mengklaim militer Venezuela telah mencapai tingkat profesional tertinggi.

“Kita harus mempersiapkan untuk mempertahankan Venezuela dalam skenario apa pun,” katanya.

Sekadar diketahui, jumlah personel militer negara itu mencapai sekitar 0,5 juta orang yang mencakup prajurit pria dan wanita. Militer Venezuela terdiri dari pasukan Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Garda Nasional dan Milisi Nasional. Negara Amerika Latin juga melanjutkan modernisasi peralatan militernya, yang telah dimulai oleh pendahulu Maduro, Hugo Chavez.

Negara kaya minyak itu dikenai embargo militer AS sejak 2006. Hal itu menyebabkannya beralih ke Rusia dan China untuk pengadaan senjata dan peralatan militer.

Venezuela saat ini memiliki jet tempur Su-30MK buatan Rusia, beberapa jenis helikopter tempur dan angkut, serta berbagai senjata di gudang amunisinya termasuk bom yang dipandu laser buatan Rusia hingga rudal anti-kapal.

Tahun lalu, Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) yang mendukung perubahan rezim di Caracas berpendapat bahwa intervensi militer terhadap Caracas tidak boleh dikesampingkan sebagai tanggapan terhadap krisis yang sedang berlangsung di negara tersebut.

“Sehubungan dengan intervensi militer yang bertujuan menggulingkan rezim Nicolas Maduro, saya pikir kita seharusnya tidak mengecualikan opsi apa pun,” kata Sekretaris Jenderal OAS Luis Almagro pada September 2018. Pernyataan itu memicu reaksi marah dari Maduro dan menganggap OAS sebagai organisasi boneka AS.

(mas)