Singgung Nuklir, AS Klaim Tak Akan Perang Dingin dengan Rusia

loading…

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo. Foto/REUTERS

WASHINGTON – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Michael Pompeo mengatakan negaranya dan Rusia tidak ditakdirkan untuk memasuki Perang Dingin baru. Menurutnya, kedua negara adalah kekuatan nuklir dunia dan perlu berunding untuk mencegah penyebaran senjata mengerikan itu.

Meski meyakini tidak akan ada Perang Dingin baru, Pompeo mendesak Moskow untuk mengubah arah masalah termasuk soal Ukraina.

“Bukan itu masalahnya kita ditakdirkan untuk menghadapi persaingan Perang Dingin,” kata Pompeo kepada elite bisnis dunia di Davos, Swiss, hari Selasa, di mana dia berbicara melalui sambungan video karena pemerintah AS sedang shutdown yang membuatnya tidak bisa melakukan perjalanan ke luar negeri.

Baca Juga:

Diplomat top Washington itu mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Rusia harus melakukan dialog langsung untuk mencegah penyebaran senjata nuklir.

“Kedua negara ini adalah pemilik kemampuan nuklir terbesar di dunia. Rusia adalah kekuatan yang luar biasa dalam hal ini kami menghormati dan kami memahami itu. Kami perlu memastikan bahwa ada pembicaraan yang terjadi sehingga kami dapat mencegah proliferasi dan sisanya yang datang dengan kepemilikan senjata nuklir itu,” kata Pompeo.

“Saya harus mengatakan itu adalah perjuangan,” lanjut dia.

Lebih lanjut Pompeo menyindir berbagai tindakan Rusia yang tak patut. Contoh, mendukung separatis Ukraina dan menganeksasi Crimea dan ikut campur pemilu Amerika Serikat dan tempat lain seperti yang dituduhkan intelijen Amerika.

“Ini bukan perilaku bangsa yang ingin menjadi bagian dari komunitas internasional,” kritik mantan direktur CIA itu, seperti dikutip AFP, Rabu (23/1/2019).

“Dan kami berharap mereka akan kembali ke tindakan yang tepat, serangkaian tindakan, yang membawa mereka ke jalan aturan hukum, ketertiban dan kebebasan,” katanya.

“Jika mereka melakukan hal-hal itu, saya yakin bahwa kedua negara kita dapat makmur dan tumbuh bersama satu sama lain. Kita tidak ditakdirkan untuk menjadi antagonis,” katanya.

Presiden Donald Trump, yang kampanye kepresidenannya 2016 menjadi subjek penyelidikan atas hubungannya dengan Rusia, telah mengundang kontroversi di dalam negeri dengan seruannya untuk membangun hubungan AS dan Rusia dengan lebih baik.

Departemen Luar Negeri dan aktor-aktor penting lainnya termasuk Kongres AS hingga kini tetap mempertahankan tekanan dan memperluas sanksi terhadap Rusia. Kebijakan Washington itu telah membuat marah pemerintah Presiden Vladimir Putin.

(mas)