Pria AS Ini Lolos dari Maut 9/11, Tewas oleh Teroris di Nairobi

loading…

Jason Spindler, 40, pria Amerika Serikat yang jadi salah satu dari 21 korban tewas oleh serangan teroris di Nairobi, Kenya. Foto/Facebook

AUSTIN – Jason Spindler, pria asal Texas, Amerika Serikat (AS) adalah salah satu dari 21 korban tewas dalam serangan teroris di hotel mewah DusitD2 dan kompleks perbelanjaan di Nairobi, Kenya. Dia jadi pemberitaan media internasional karena pernah lolos dari serangan 11 September 2001 atau 9/11 di World Trade Center (WTC).

Spindler, 40, sedang bekerja di Afrika untuk perusahaan yang berbasis di San Francisco yang dia dirikan bersama untuk mendorong bisnis di pasar negara berkembang. Meski sedih, keluarganya bangga atas kiprahnya di dunia.

“Jika Anda memandangnya dan berbicara dengannya, Anda akan berkata, ‘Orang ini ditakdirkan untuk mengubah dunia’,” kata ayahnya, Joseph Spindler, seorang dokter Houston. “Dan dia melakukannya,” ujarnya.

Baca Juga:

Seperti diberitakan sebelumnya, sekitar 21 orang tewas dalam pengepungan teroris di hotel mewah DusitD2 dan kompleks perbelanjaan di Nairobi. Kelompok ekstremis Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan berdarah pada hari Selasa (15/1/2019) tersebut.

Menurut sang ayah, Jason akan berusia 41 tahun pada hari Senin, dan teman-temannya di Afrika berencana untuk mengadakan pesta ulang tahun. “Dia hanya individu yang luar biasa,” kata Joseph Spindler, seperti dikutip Chron, Kamis (17/1/2019).

Dia membenarkan bahwa serangan di Nairobi adalah serangan teroris kedua bagi Spindler. Pada serangan teroris di WTC 11 September 2001, dia bekerja di Building 7 di WTC. Namun, saat serangan terjadi pria itu terlambat masuk kerja yang membuatnya lolos dari kematian.

Kevin Yu, teman sekamar Spindler di University of Texas di Austin, mengatakan temannya berada di garis depan dalam seminggu setelah serangan 9/11 di AS dengan membantu para korban. Dia pun menduga bahwa Spindler sejatinya berusaha membantu orang lain selama pengepungan teroris di Nairobi ketika serangan terjadi.

“Tidak ada pertanyaan di benak saya bahwa ketika dia mendengar ledakan pertama, dia ingin membantu orang,” kata Yu.

Serangan di Nairobi bukan serangan dahsyat pertama oleh kelompok Al-Shabaab yang bermarkas Somalia. Pada tahun 2013, kelompok itu juga melakukan serangan di Westgate Mall di Nairobi yang menewaskan 67 orang, dan serangan terhadap Universitas Garissa di Kenya pada 2015 yang menewaskan 147 orang.

Menurut pejabat Kenya, pada hari Selasa para ekstremis menyerbu kompleks hotel mewah dengan senjata dan bahan peledak dan memulai serangan terkoordinasi. Serangan dimulai dengan ledakan yang menargetkan tiga kendaraan di luar bank dan pemboman bunuh diri di lobi hotel.

(mas)