Pemberontak ELN Klaim Serangan Bom di Akademi Polisi Kolombia

loading…

Pemberontak ELN mengaku bertanggung jawab atas serangan bom mobil di Akademi Polisi di Bogota, Kolombia. Foto/Istimewa

BOGOTA – Kelompok pemberontak Tentara Pembebasan Nasional Kolombia (ELN) mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom mobil di sebuah akademi polisi di Bogota minggu lalu yang menewaskan sedikitnya 20 orang.

Dalam sebuah pernyataan, kelompok militan sayap kiri itu mengatakan serangan tersebut sebagai balasan atas pembomban kamp mereka oleh pemerintah kendati ada gencatan senjata.

“Oleh karena itu, operasi yang dilakukan terhadap pembentukan dan pasukan tersebut sah menurut ‘hak perang,'” kata ELN, seperti dikutip dari CNN, Selasa (22/1/2019).

Baca Juga:

ELN dan pemerintah Kolombia mencapai kesepakatan gencatan senjata pada September 2017. Namun, perjanjian itu mendapat ujian oleh serangan dari kedua sisi.

Kelompok itu meminta pemerintah untuk mengirim delegasi ke meja perundingan untuk melanjutkan pembicaraan damai. “Perang bukan masa depan bagi Kolombia, itu adalah perdamaian,” kelompok itu menambahkan.

Polisi mengatakan serangan yang terjadi pada Kamis lalu di luar Akademi Kepolisian Nasional Jenderal Santander itu melukai sedikitnya 68 lainnya.

Pejabat tinggi polisi mengatakan kepada CNN bahwa ledakan itu tampaknya adalah hasil dari serangan bunuh diri. Polisi mengidentifikasi pelaku sebagai Jose Aldemar Rojas Rodriguez, dan mengatakan dia juga tewas dalam serangan itu.

Jaksa Agung Nestor Humberto Martinez mengatakan Rojas Rodriguez diduga memiliki sekitar 80 kilogram bahan peledak ketika ia memasuki akademi polisi dengan paksa.

Menurut polisi, Rojas Rodriguez menabrakan kendaraannya ke halaman akademi dengan kecepatan penuh dan mengabaikan seruan untuk berhenti.

Afiliasi CNN Cablenoticias menunjukkan area di luar sekolah kadet polisi itu ditutup.

Presiden Kolombia Ivan Duque mengutuk serangan itu sebagai aksi terorisme dan bersumpah untuk membawa para pelakunya ke pengadilan.

Ia kemudian mengunjungi tempat kejadian dan memproklamasikan masa berkabung selama tiga hari.

“Dari saat acara kami telah memberikan bantuan dan pendampingan kepada keluarga. Kepada mereka semua saya mengirim cinta saya, terima kasih,” katanya.

Salah satu taruna polisi yang terbunuh adalah seorang wanita berusia 21 tahun dari Ekuador yang sedang belajar di akademi, kata Presiden Ekuador Lenin Moreno.

(ian)