Momen Pesawat Bomber Rusia Terbelah Dua dan Meledak Jadi Bola Api

loading…

Pesawat pembom supersonik Tu-22M3 Rusia saat jatuh di pangkalan udara Olenya di lingkaran Arktik. Foto/Russia Today

MOSKOW – Sebuah video detik-detik jatuhnya pesawat pembom (bomber) Tu-22M2 Rusia saat akan mendarat di Kutub Utara pada pekan lalu telah beredar. Pesawat itu terlihat terbelah menjadi dua dan meledak menjadi bola api “pembunuh” tiga awak.

Insiden terjadi ketika Tu-22M3 hendak mendarat di landasan bersalju. Ada empat awak di dalam pesawat, tiga di antaranya tewas.

Rekaman video dramatis itu menunjukkan pesawat mendekati landasan dengan kecepatan cukup tinggi dan telah roda telah menyentuh landasan.

Baca Juga:

Namun, pesawat memantul dan mulai terbelah. Dalam sekejap pesawat meledak menjadi dua bola api. Bagian kokpit terpental dari bagian lain pesawat tersebut.

Video diambil dari pangkalan udara Olenya di lingkaran Arktik (Kutub Utara).

Pejabat pertahanan Rusia mengatakan Tu-22M3 tersebut sedang dalam penerbangan pelatihan dan tidak bersenjata. Namun, laporan lain yang belum dikonfirmasi menyatakan ada rudal di dalamnya.

Laporan itu juga menunjukkan bahwa komandan pesawat Mayor Alexey Guryev kehilangan kendali saat mendarat di pangkalan udara terpencil tersebut.

Kokpit yang rusak kemudian terlihat berbaring miring di lapangan bersalju, dalam jarak yang belum diketahui dari sisa reruntuhan yang terlihat gosong.

Guryev, 37, meninggal di tempat kejadian. Sebuah penghargaan telah diberikan kepada kapten pesawat tersebut dan dua penerbang lainnya yang ikut tewas, yakni co-pilot Konstantin Mazunin dan navigator Viktor Greyf.

Sebuah pesan emosional untuk menghormati Greyf, 43, yang meninggal ketika ia dilarikan ke rumah sakit, telah di-posting putranya yang masih remaja di media sosial.

“Anda adalah pahlawan saya! Anda yang terbaik!,” tulis putra korban, Kirill, 17.

Navigator lain, Maxim Rylkov selamat dari kecelakaan itu dilaporkan dalam kondisi terluka parah.

Guryev—ayah satu anak—berasal dari dinasti pilot angkatan udara Rusia dan mengikuti jejak ayahnya yang bernama German.

Putra Guryev yang berusia delapan tahun juga dinamai German, nama yang sama dengan kakeknya.

Ada kritik yang tersirat terhadap kru dalam laporan kecelakaan yang bocor dua hari setelah insiden. Laporan itu menyatakan kapten pesawat memungkinkan pendaratan pesawat tanpa leveling.

“Pesawat yang tidak seimbang itu kemudian terbelah dengan terjadi tumbukan dan mulai hancur” bunyi laporan yang bocor tersebut, seperti dikutip Daily Mirror, Senin (28/1/2019).

Kokpit dan sisa-sisa pesawat yang terbakar terlepas satu sama lain. “Para kru tidak menanggapi perintah tim manajemen penerbangan,” lanjut laporan tersebut. “Badan pesawat terbakar.”

Ada juga klaim yang menyebut kapten pesawat bersikeras mendarat meskipun didesak untuk menggunakan pangkalan udara lain.

“Saat ini, semua versi yang mungkin dari insiden tersebut, termasuk kerusakan teknis, sedang dipertimbangkan,” kata sumber militer Rusia.

Kecelakaan itu terjadi di pangkalan udara Olenya, dekat Olenegrosk, di Semenanjung Kola sekitar 57 mil selatan kota Murmansk.

Pakar penerbangan Vadim Lukashevich percaya bahwa kecelakaan itu kemungkinan disebabkan oleh embusan angin vertikal yang tiba-tiba menghantam pesawat sebelum mendarat.

Pembom Tupolev—sebuah pesawat yang beroperasi sejak era Soviet—dapat menyerang target 4.350 mil dari pangkalan, dan merupakan pesawat perang utama untuk disebar melawan militer Barat.

Pembom itu memiliki empat awak. Pesawat yang jatuh dilaporkan berusia 33 tahun dan mengalami perombakan besar pada tahun 2012.

Investigator militer telah memulai penyelidikan kecelakaan.

(mas)