Michael Bloomberg, Miliarder yang Ingin Jadi Presiden

loading…

Pria berusia 76 tahun ini sudah memiliki banyak status. Dari pengusaha multinasional, politikus, filantropis, aktivis, hingga penulis. Hampir tidak ada bidang kehidupan publik yang tidak tersentuh pengaruhnya. Pada usia senja, dia pun mengincar ambisi puncak; menjadi presiden Amerika Serikat (AS)

Sesuai namanya, dialah pendiri sekaligus pemilik Bloomberg LP, perusahaan multinasional di bidang layanan finansial, media, serta perangkat lunak (software). Perusahaan ini didirikannya pada 1981, saat dirinya masih berusia 39 tahun.

Pria kelahiran Boston, 14 Februari 1942 ini, juga dikenal sebagai wali kota New York selama tiga kali masa jabatan (2002-2013). Namanya pun sudah langganan masuk dalam daftar orang paling berpengaruh dan orang terkaya. Dikutip Forbes, tahun lalu dia masuk dalam daftar Forbes 400, Powerful People, dan Billionaires. Sementara pada 2017 namanya masuk dalam daftar The Richest Person In Every State.

Baca Juga:

Kini, Bloomberg sedang ramai disebut-sebut akan ikut maju dalam pemilihan presiden (pilpres) AS yang akan digelar pada 2020 mendatang, melalui Partai Demokrat.

Dikutip majalah berita mingguan Kanada, Maclean’s, motivasinya maju dalam pilpres adalah untuk mengembalikan kepercayaan dunia pada AS. “Sebagai orang Amerika, saya mengatakan, jangan salah mengartikan kekacauan di Washington demi tekad rakyat Amerika,” serunya.

Bloomberg mengatakan tidak melihat poin penting dalam mencalonkan diri sebagai presiden jika tidak dapat berjalan pada platform yang sesuai dengan nilai-nilainya. Prioritasnya termasuk kesehatan masyarakat, perubahan iklim, dan pendidikan.

“Perubahan iklim dapat menghancurkan seluruh dunia dan membunuh semua orang di dalamnya. Saya sangat frustrasi karena banyak orang tidak memahaminya,” katanya, dikutip Boston Globe.

Selain itu, Bloomberg memainkan peran kepemimpinan yang dominan pada isu lainnya, yakni kontrol senjata. Dia menghabiskan satu dekade memerhatikan masalah perubahan iklim dan kontrol senjata tersebut.

Jika dia resmi mencalonkan diri dalam pilpres, kedua isu ini yang diperkirakan cukup menonjol dibawanya. Meski tidak ada kampanye presiden yang berhasil yang pernah dikaitkan dengan masalah-masalah itu, politik di sekitar perubahan iklim dan kontrol senjata telah berubah secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip Politico, menurut sumber terdekat, Bloomberg melakukan jajak pendapat dan mengumpulkan data terkait dua hal itu yang nantinya bisa mendorong Partai Demokrat maju ke tempat pemungutan suara.

“Saya telah mencurahkan banyak hidup saya untuk memerangi kekerasan senjata. Ketika saya meninggalkan kantor, saya tahu bahwa saya tidak bisa meninggalkan tanggung jawab itu… Saya akan mengabdikan hidup saya untuk pekerjaan yang belum selesai,” tuturnya di acara Everytown for Gun Safety, kelompok yang dibentuknya lima tahun lalu setelah diangkat menjadi wali kota New York.

Dia juga yakin usianya yang sudah terbilang senja tidak akan menjadi masalah besar baginya saat maju dalam pilpres. Menurut dia, kedewasaan dan pengalaman akan menjadi aset yang berharga.

“Tidak ada yang salah dengan orang-orang yang muda, tetapi tidak ada yang salah dengan orang yang lebih tua. Menjadi tua adalah proses yang saya harap berlanjut,” ujarnya.

Seperti diketahui, pada tahun 2001 Bloomberg memutuskan untuk memasuki dunia politik dan mencalonkan diri sebagai wali kota New York dari Partai Republik. Dia pun menang dan menjabat pada tahun 2002. Saat itu dia juga ikut membantu membangun kembali kota setelah serangan 9/11.

(don)