Lewat Video, Pria Mengaku Petinggi Militer Desak Maduro Mundur

loading…

Seorang pria yang mengidentifikasi dirinya sebagai Sersan Garda Nasional Venezuela di sebuah pos terdepan di Caracas menyerukan Maduro untuk mundur atau dilengserkan. Foto/Reuters

CARACAS – Seorang pria yang mengidentifikasi dirinya sebagai Sersan Garda Nasional Venezuela di sebuah pos terdepan di Caracas menyerukan agar Presiden Nicolas Maduro untuk mundur atau dilengserkan.

Melansir Reuters pada Senin (21/2), video itu tidak menunjukkan pergerakan pasukan atau kendaraan militer yang signifikan. Foto-foto di media sosial menunjukkan kehadiran pasukan keamanan di daerah pos Garda Nasional.

Sejak awal tahun, Venezuela disebut-sebut berada di ambang kudeta militer setelah angkatan bersenjata diklaim siap untuk berbalik melawan Maduro. Klaim ini muncul dari para perwira angkatan bersenjata yang berada di pengasingan.

Baca Juga:

Para perwira yang menjadi oposisi anti-rezim Maduro itu mendesak orang-orang untuk turun ke jalan. Mereka ingin Presiden Majelis Nasional, Juan Guaido, dilantik sebagai presiden dan panglima tertinggi negara.

Para pejabat militer di pengasingan yang berbasis di Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa para perwira yang melayani negara saat ini menjadi kecewa dengan Maduro. Namun, belum ada yang mau memimpin pemberontakan secara habis-habisan.

Kami berada di waktu terbaik untuk sesuatu seperti apa yang terjadi pada tahun 2002. Angkatan bersenjata hari ini tidak memiliki kapasitas atau keinginan untuk melawan penduduk dalam protes besar-besaran,” kata Mayor Jenderal Herbert Garcia Plaza, perwira non-aktif yang sekarang tinggal di Washington, merujuk pada kudeta militer yang menyebabkan penggulingan singkat Presiden Hugo Chavez.

Jenderal Anotonio Rivero, perwira non-aktif lain yang tinggal di Miami, juga mengklaim militer Venezuela kecewa pada Maduro. Menurutnya, para perwira aktif ingin melihat Presiden Majelis Nasional, Juan Guaido, mengambil peran sebagai panglima tertinggi.

Menurut Rivero, Guaido seharusnya dilantik sebagai pemimpin bangsa pada 10 Januari 2019.

(esn)