Ilmuwan Irak Akui Bantu ISIS Membuat Senjata Kimia

loading…

Seorang militan ISIS membawa senjata dan bendera saat beraksi di Timur Tengah. Foto/REUTERS

BAGHDAD – Seorang ilmuwan Irak mengaku telah memelopori pembuatan senjata kimia untuk kelompok Islamic State (ISIS) atau Daesh sealama 15 bulan. Dia adalah Suleiman al-Afari, 52, seorang ahli geologi.

Pengakuan itu disampaikan dalam wawancaranya dengan The Washington Post.

Beberapa minggu setelah perebutan Mosul, kota terbesar kedua di Irak, oleh Daesh, Afari yang merupakan ilmuwan di Kementerian Perindustrian dan Mineral Irak “dibajak” oleh kelompok teroris tersebut untuk membantu mereka mengembangkan program senjata kimia.

Baca Juga:

Meskipun Afari memiliki sedikit pengetahuan tentang pekerjaan itu, ia menerima tawaran ISIS dan bertugas mengawasi pembuatan racun mematikan, termasuk mustard belerang.

Selama wawancara 45 menit dengan Joby Warrick dari The Washington Post di Departemen Kontraterorisme Irbil, Afari mengatakan bahwa dia tidak menyesali keputusannya. Alasannya, ia ingin mempertahankan pekerjaan pemerintah.

“Mereka telah menjadi pemerintah, dan kami sekarang bekerja untuk mereka. Kami ingin bekerja sehingga kami bisa mendapat bayaran. Mereka tidak memaksa siapa pun. Saya takut kehilangan pekerjaan. Pekerjaan pemerintah sulit didapat, dan penting untuk mempertahankannya,” katanya, yang dilansir Selasa (22/1/2019).

Afari adalah bagian dari segelintir orang yang berpartisipasi dalam program pengembangan senjata kimia ISIS. Dia adalah target yang ditangkap hidup-hidup oleh pasukan pemerintah. Dia juga didakwa mengatur rantai pasokan untuk gas mustard, dan melengkapi sekelompok kecil laboratorium.

“Itu penting (bagi Daesh) untuk membuat sesuatu yang kuat sehingga mereka bisa ketakutan. Itu lebih tentang menciptakan horor dan memengaruhi psikologi dan moral pasukan yang melawan mereka. Saya tidak percaya kualitas senjata berada pada tingkat yang berbahaya,” ujarnya.

Berbicara tentang fasilitas tempat dia dulu bekerja, ilmuwan itu mengatakan bahwa program senjata kimia tersebut sangat primitif dan sederhana.

“Ada orang-orang yang tidak berpendidikan di sana yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan. Saya tidak berpikir ada sesuatu yang dilakukan dengan benar,” kata Afari, yang menambahkan bahwa lokasi pembuatan senjata kimia terletak di bekas bengkel mobil.

Meskipun laboratorium senjata kimia dihilangkan di Irak, The Washington Post mengutip pejabat Irak yang berasumsi bahwa Daesh bisa memindahkan beberapa peralatan dan bahan kimia ke Suriah pada tahun 2016.

Daesh pada beberapa kesempatan menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil dan personel militer koalisi pimpinan Irak, Suriah, dan AS, dengan gas klorin dan mustard belerang.

(mas)