Hamas Kecam Keputusan AS Hentikan Operasi Badan Bantuan di Palestina

loading…

Hamas mengutuk keputusan AS untuk menutup kantor dan memotong dana untuk semua proyeknya di bawah Badan Pembangunan Internasional (USAID) di Palestina. foto/Istimewa

GAZA – Hamas mengutuk keputusan Amerika Serikat (AS) untuk menutup kantor dan memotong dana untuk semua proyeknya di bawah Badan Pembangunan Internasional (USAID) di Palestina. Hamas menyebutnya sebagai pemerasan politik dan mendesak upaya internasional untuk mengakhiri kampanye tekanan anti-Palestina Washington.

Juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum mengatakan bahwa keputusan oleh administrasi Presiden AS, Donald Trump untuk menghentikan bantuan kepada Palestina sejalan dengan kesepakatan abad ini yang bertujuan untuk melikuidasi masalah Palestina.

“Keputusan pemerintah Trump untuk memotong bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada rakyat Palestina adalah pemerasan politik yang mencerminkan sikap tidak bermoral AS terhadap Palestina dan alasan mereka,” kata Barhoum, seperti dilansir PressTV pada Minggu (20/1).

Baca Juga:

Dia kemudian mendesak lembaga-lembaga internasional untuk mendukung Palestina dan mendukung mereka dalam menghadapi perilaku diskriminatif pemerintah AS yang bias dalam rangka mendukung pendudukan Israel.

“Hamas menyerukan kepada semua organisasi internasional, kemanusiaan, dan hukum untuk mengutuk kebijakan AS yang bertujuan menekan rakyat Palestina untuk menerima rencananya di wilayah tersebut. Organisasi semacam itu harus memikul tanggung jawab untuk memobilisasi dukungan dan berpihak pada rakyat Palestina yang miskin,” tambahnya.

Seperti diketahui, Mantan direktur misi USAID dan direktur pelaksana Georgetown Strategy Group, Dave Harden mengatakan Washington akan menutup kantor USAID di Palestina pada akhir Januari.

Harden menuturkan, penutupan ini sekali lagi menunjukan kurangnya pengetahuan Washington mengenai kompleksitas situasi di lapangan.

“Pemerintah sekali lagi menunjukkan kurangnya nuansa, pengalaman, dan penghargaan untuk kompleksitas situasi. Siapa yang menderita ketika USAID meninggalkan sekolah dan sistem air yang belum selesai? Palestina, tentu saja, tetapi juga Israel dan Amerika. Pemerintah hanya memberi Hamas lebih banyak ruang untuk berlari,” ucap Harden.

(esn)