Guaido: Venezuela di Bawah Kediktatoran

loading…

Tokoh oposisi Venezuela Juan Guaido mengatakan negara itu berada di bawah kediktatoran. Foto/Istimewa

CARACAS – Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido mengatakan bahwa warga negara itu hidup dalam kediktatoran. Ia pun kembali menyerukan untuk digelarnya pemilu baru.

Berbicara kepada BBC Mundo di Caracas, Guaido membela klaimnya sebagai pemimpin sementara. Menurutnya konstitusi Venezuela mengizinkannya, sebagai Ketua Majelis Nasional, untuk mengambil alih kekuasaan ketika presiden dianggap tidak sah.

“Tugas saya adalah menyerukan pemilihan bebas karena ada penyalahgunaan kekuasaan dan kami hidup dalam kediktatoran,” kata Guaido.

Baca Juga:

“Di Venezuela, kami menerima dominasi, penindasan total dan penyiksaan dari rezim Maduro atau kami memilih kebebasan, demokrasi dan kemakmuran bagi rakyat kami,” imbuhnya seperti dilansir dari BBC, Selasa (29/1/2019).

Guaido mengatakan bahwa pemerintahan Maduro membunuh kaum muda miskin di jalanan.

Ia pun berjanji untuk bertindak sebagai pemimpin sementara untuk mengawasi pemilihan baru di negara itu. Namun, deklarasi kepemimpinannya telah memecah komunitas internasional. Sejauh ini, ia telah mendapat pengakuan sebagai pemimpin sementara oleh lebih dari 20 negara, termasuk Amerika Serikat (AS).

Sementara Presiden Nicolas Maduro mempertahankan dukungan dari Rusia, yang menuduh AS melakukan intervensi “ilegal”.

Guaido telah menyerukan demonstrasi lebih lanjut minggu ini, setelah puluhan ribu orang turun ke jalan untuk memprotes Maduro Rabu lalu.

PBB mengatakan bahwa 40 orang diyakini telah terbunuh dalam kerusuhan baru-baru ini.

Aksi protes telah berkembang sejak Maduro memulai masa jabatan kedua sebagai presiden bulan ini. Dia terpilih tahun lalu dalam pemungutan suara kontroversial di mana banyak kandidat oposisi dilarang ikut bertarung atau dipenjara.

Venezuela telah berjuang menghadapi krisis ekonomi besar-besaran. Hiperinflasi dan kekurangan barang-barang kebutuhan pokok seperti makanan serta obat-obatan telah memaksa jutaan orang meninggalkan negara.

(ian)