Eks Bos Intelijen Arab Saudi Dibohongi Obama soal Suriah

loading…

Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama. Foto/REUTERS/Kamil Krzaczynski

RIYADH – Bekas kapal intelijen dan diplomat Arab Saudi, Pangeran Bandar bin Sultan, mengungkap bahwa Barack Hussein Obama saat menjabat sebagai presiden Amerika Serikat (AS) membohonginya soal penanganan terhadap rezim Suriah. Menurutnya, kebijakan luar negeri Obama pula yang membuat Rusia dan Iran menjadi berani.

Pangeran Bandar mengatakan Obama berbohong kepada Arab Saudi soal janjinya menindak rezim Suriah jika melanggar “garis merah” terkait dugaan penggunaan senjata kimia. Alih-alih bertindak, menurutnya, Obama justru melakukan kebalikannya.

Bandar bin Sultan sebelumnya menjabat sebagai kepala intelijen Arab Saudi dan sebagai duta besar negara tersebut untuk Amerika Serikat.

Baca Juga:

Dalam sebuah wawancara dengan Independent Arabia yang belum dipublikasikan secara penuh, Pangeran Bandar mengingat percakapan teleponnya dengan presiden Obama saat itu.

“Saya tidak menyangka bahwa (setelah) sepanjang hidup ini, saya akan melihat (hari) ketika seorang presiden Amerika berbohong kepada saya,” katanya.

Selama tahun terakhirnya di kantor, Obama membuat pernyataan kurang ajar tentang serangan kimia di Suriah, yang berulang kali dituduh AS didalangi Damaskus. Namun, ketika serangan seperti itu terjadi, AS menahan diri dari ancaman untuk bertindak.

Rusia telah berulang kali memberikan bukti bahwa rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad tidak berada di belakang serangan senjata kimia. Namun, AS dan sekutu-sekutunya mengatakan sebaliknya.

“Obama akan menjanjikan sesuatu dan (kemudian) melakukan yang sebaliknya,” kesal Pangeran Bandar.

Dia ingat bagaimana Obama berulang kali mengecam Iran untuk program nuklirnya, tetapi akhirnya merundingkan apa yang disebut sebagai kesepakatan nuklir Iran, sebuah langkah yang menurut Bandar bin Sultan, dikompromikan “di belakang” Arab Saudi.

Dia berpendapat bahwa kuliah diplomatik Obama telah membawa Timur Tengah kembali 20 tahun ke belakang.

Mantan diplomat itu juga mengatakan bahwa tindakan AS telah membuat Rusia dan Iran berani untuk bergabung dengan Suriah dalam pertempuran melawan Daesh (ISIS) dan kelompok-kelompok teroris lainnya.

Rusia dan Iran adalah dua negara yang terlibat konflik Suriah atas permintaan resmi presiden Assad. Sedangkan pasukan koalisi, baik yang dipimpin Turki maupun AS, beroperasi di wilayah Suriah tanpa izin dari Damaskus.

Menurut Jerusalem Post, Selasa (29/1/2019), wawancara lengkap, yang juga mencakup pendapat Bandar bin Sultan tentang Suriah, Qatar, Israel dan Palestina, akan diterbitkan dalam beberapa hari mendatang.

(mas)