Ditekan AS Cs, Maduro Pamer Alat Tempur Venezuela

loading…

Presiden Nicolas Maduro bersama para perwira militernya saat melakukan manuver. Foto/Miraflores Palace/Handout via REUTERS

CARACAS – Presiden Nicolas Maduro bersama militer Venezuela menunjukkan peralatan tempurnya kepada masyarakat dunia setelah posisinya ditekan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutu Washington. Sebaliknya, kubu oposisi menyerukan demo besar-besaran melawan rezim Maduro.

Berpidato di hadapan tentara pada hari Minggu waktu Caracas yang disiarkan stasiun televisi pemerintah, Maduro bertanya apakah mereka sedang merencanakan kudeta dengan dipimpin “imperialis” AS.

“Tidak, panglima tertinggi saya,” teriak para perwira militer serempak saat menjawab pertanyaan Maduro. “Kami siap mempertahankan tanah air kami dalam keadaan apa pun,” lanjut militer Venezuela, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (28/1/2019).

Baca Juga:

Mengenakan seragam cokelat, Maduro menyaksikan satu peleton tentara melepaskan tembakan granat berpeluncur roket, senapan mesin anti-pesawat dan peluru tank terhadap sasaran di lereng bukit di Fort Paramacay, sebuah pangkalan kendaraan lapis baja.

“Tidak ada yang menghormati yang lemah, pengecut, pengkhianat. Di dunia ini, yang dihormati adalah pemberani, pemberani, kekuatan,” kata Maduro.

“Tidak ada yang bahkan berpikir untuk menginjak tanah suci ini. Venezuela menginginkan perdamaian,” katanya. “Untuk menjamin perdamaian, kita harus siap,” imbuh dia.

Dari 10 hingga 15 Februari 2019, militer negara tersebut merencanakan latihan perang berskala besar. Maduro menggambarkan latihan itu sebagai “yang paling penting dalam sejarah Venezuela”.

Dia mengecam dugaan konspirasi yang bertujuan menyebarkan pemberontakan di kalangan tentara. Menurutnya, ribuan pesan dikirim ke tentara setiap hari melalui WhatsApp dan platform media sosial lainnya dari negara tetangga Kolombia.

Dalam aksinya Maduro bersama tentaranya menaiki kendaraan amfibi di pangkalan angkatan laut.

Sementara itu, Juan Guaido; Kepala Majelis Nasional (Parlemen) yang dikendalikan oposisi, menyerukan lebih banyak protes karena Maduro menampilkan kekuatan militer.

Dalam siaran langsung pada hari Minggu, Guaido mendesak semua rakyat Venezuela untuk turun ke jalan dalam “protes damai” pada siang hari, Rabu mendatang. Tujuannya, agar bantuan kemanusiaan diizinkan masuk ke negara yang dilanda krisis ekonomi dan politik tersebut.

Pentolan oposisi berusia 35 tahun itu telah mendeklarasikan diri sebagai presiden interim Venezuela sampai pemilu terbaru digelar. Statusnya itu didukung dan diakui oleh AS, Israel, Australia, Kanada dan negara-negara Amerika Latin.

Sedangkan negara-negara Uni Eropa mengultimatum Maduro untuk menggelar pemilu baru dalam waktu delapan hari. Jika menolak, nagara-negara seperti Prancis, Spanyol, dan Jerman akan mengakui Guaido sebagai presiden interim Venezeula.

Maduro menolak ultimatum Uni Eropa. Baginya, pemilu Venezuela sudah digelar tahun lalu dan partainya, United Socialist Party of Venezuela (PSUV), sebagai pemenang. Dia juga telah diambil sumpah untuk menjabat sebagai presiden yang berkuasa selama enam tahun ke depan.

Namun, pemilu tahun lalu tak diakui kubu oposisi dan negara-negara Barat terutama AS. Juan Guaido dari Partai Popular Will (VP) justru sesumbar menawarkan amnesti kepada Maduro.

(mas)