Deteksi Misil Musuh, AS Inginkan Sensor Rudal Berbasis Ruang Angkasa

loading…

Misil interseptor Amerika Serikat saat diuji coba di Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg. Foto/Missile Defense Agency/ABC

WASHINGTON – Pemerintah Presiden Donald Trump menghendaki ruang angkasa sebagai basis sensor sistem pertahanan rudal Amerika Serikat (AS) yang bertujuan untuk mendeteksi setiap misil jarak jauh negara-negara musuh sebelum diluncurkan. Pemerintah Trump juga meminta dilakukan penelitian yang memungkinkan laser bisa digunakan untuk melawan misil balistik yang diluncurkan “negara-negara jahat”.

Presiden Donald Trump dijadwalkan akan mengunjungi Pentagon pada hari Kamis (17/1/2019) waktu setempat untuk secara resmi mengungkap Tinjauan Pertahanan Rudal Pentagon.

Peninjauan pertama dari jenisnya yang dilakukan sejak 2010 tersebut akan memberikan jalan di depan untuk bagaimana Amerika Serikat dapat terus menghadapi ancaman misil balistik yang mengancam Amerika, sekutu serta mitra regionalnya.

Baca Juga:

Untuk sementara, tinjauan baru berfokus secara eksklusif pada ancaman rudal balistik. Namun, untuk tahap berikutnya, tinjauan akan diperluas cakupan untuk memasukkan ancaman rudal jelajah dan hipersonik yang dikembangkan oleh Rusia dan China.

“Ini benar-benar pandangan komprehensif pada kemampuan dan program serta postur pertahanan rudal kami,” kata seorang pejabat senior administrasi Trump kepada wartawan sebelum tinjauan itu dirilis. “Baik apa yang kita miliki saat ini, apa yang ingin kita perbaiki, dan kemudian apa program generasi selanjutnya yang ingin kita investasikan untuk maju dan tetap di depan (melawan) ancaman,” ujarnya, seperti dikutip ABC News.

Titik utama penekanan dalam tinjauan ini adalah kemampuan berbasis ruang yang dapat membantu AS tetap unggul di depan dalam menghadapi ancaman musuh.

“Ruang angkasa adalah kunci untuk langkah pertahanan misil berikutnya,” kata pejabat yang berbicara dalam kondisi anonim tersebut.

Sistem pertahanan rudal AS saat ini terdiri dari pendekatan berlapis dari rudal pencegat di atas kapal Angkatan Laut dan pencegat darat jarak jauh yang berbasis di Alaska dan California.

Departemen Pertahanan akan melihat lapisan sensor berbasis ruang angkasa yang dapat meningkatkan sistem peringatan dini untuk melacak rudal musuh sebelum diluncurkan.

Amerika Serikat memiliki 44 pencegat rudal berbasis darat yang ditempatkan di Fort Greeley di Alaska dan Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg di California yang dirancang untuk mencegat rudal Korea Utara yang mungkin menuju Amerika Serikat. Jumlah pencegat berbasis darat sudah dijadwalkan akan meningkat menjadi 64 pada tahun 2023.

Pejabat administrasi Trump itu menambahkan Tinjauan Pertahanan Rudal akan terus mempelajari kelayakan penciptaan situs ketiga di tempat lain di benua Amerika Serikat untuk menghadapi ancaman dari rudal jarak jauh Iran.

Tinjauan itu kemungkinan akan membuat Rusia dan China marah karena mengeksplorasi ruang angkasa untuk militer. Namun, pejabat administrasi Trump itu menekankan bahwa sistem pertahanan rudal Amerika murni bersifat defensif dan diarahkan pada ancaman “negara-negara jahat”. Pejabat itu juga mencatat bahwa Amerika Serikat terus mengandalkan persenjataan nuklirnya untuk mencegah potensi serangan nuklir dari Rusia atau pun China.

(mas)