Calon PM Israel Bangga Bunuh 1.364 Orang dan Bikin Gaza ke Zaman Batu

loading…

Mantan Kepala Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Benny Gantz, kandidat perdana menteri Israel dalam pemilu April 2019 mendatang. Foto/REUTERS

TEL AVIV – Mantan Kepala Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Benny Gantz menjadi kandidat perdana menteri (PM) Israel yang ingin menggantikan Benjamin Netanyahu. Dalam kampanyenya, ia membanggakan pemboman di Gaza tahun 2014 yang dia sebut membuat wilayah itu kembali ke “zaman batu”.

Ketika jadi Kepala IDF, Gantz memimpin Operation Protective Edge. Operasi militer itu adalah perang melawan Hamas di Jalur Gaza, Palestina, selama 51 hari pada tahun 2014.

Dalam iklan kampanyenya, ia juga membanggakan operasi militer itu telah membunuh 1.364 warga Gaza yang dia sebut semuanya “teroris”. Operasi itu juga dia klaim membawa “3,5 tahun ketenangan” bagi negaranya.

Baca Juga:

Gantz telah merilis serangkaian iklan kampanye untuk partai Hosen Le Yisrael. Dengan kampanye itu, dia berambisi untuk menggantikan Benjamin Netanyahu sebagai PM Israel dalam pemilu April mendatang.

“Bagian-bagian Gaza dikembalikan ke zaman batu,” bunyi salah satu iklan kampanye merujuk pada bangunan-bangunan Palestina yang dibom.

Iklan kedua kampanyenya menunjukkan jumlah kematian atas adegan pemakaman ribuan orang Palestina. Sedangkan iklan ketiga menunjukkan pembunuhan yang ditargetkan terhadap seorang pemimpin Hamas yang mobilnya meledak dalam kobaran api.

Elektabilitas Gantz, yang slogan kampanyenya diterjemahkan menjadi “Israel Sebelum Segalanya”, masih selisih 10 poin di bawah Netanyahu. Menurut sebuah jajak pendapat di negara itu, Partai Hosen le Yisrael akan memenangkan kurang dari setengah kursi parlemen yang dikuasai Partai Likud pimpinan Netanyahu jika pemilu diadakan hari ini.

Media Palestina dan Israel sama-sama mempermasalahkan angka matematika “teror” oleh Gantz. Dengan menggunakan angka-angka Dewan HAM PBB, surat kabar Electronic Intifada menunjukkan bahwa secara diam-diam IDF pimpinan Gantz mengakui telah menargetkan warga sipil, karena kurang dari 800 dari mereka yang tewas dalam Operation Protective Edge adalah militan. Sedangkan Haaretz, yang dikutip Selasa (22/1/2019), mencatat bahwa angka resmi militer Israel kurang dari setengah dari jumlah tersebut yang berarti hampir 500 korban tewas tidak dikategorikan “teroris”.

Pengakuan tidak sengaja ini, lanjut Electronic Intifada, dapat membantu warga negara Palestina-Belanda Ismail Ziada dalam gugatannya terhadap Gantz. Dalam gugatannya, Ziada menuduh pemboman yang menewaskan keluarganya adalah bagian dari kebijakan resmi IDF untuk menargetkan tempat tinggal warga sipil yang berarti melanggar hukum kemanusiaan internasional.

(mas)