Bendungan Tailing Vale di Brasil Jebol, 200 Orang Hilang

loading…

Tim penyelamat mengevakuasi para korban bendungan tailing yang jebol di Brasil. Foto/REUTERS

BRASILIA – Sebuah bendungan tailing milik perusahaan penambang biji besi Vale SA di negara bagian Minas Gerais, Brasil, jebol. Sekitar 200 orang dinyatakan hilang.

Tim pemadam kebakaran yang sedang mencari para korban hilang mengatakan bendungan jebol pada hari Jumat waktu setempat.

Sebuah pernyataan dari tim pemadam kebakaran yang dikeluarkan di kota Belo Horizonte mengatakan sejumlah orang terperangkap di beberapa area sungai lumpur akibat jebolnya bendungan tersebut.

Baca Juga:

Vale mengatakan ada karyawan di gedung administrasi bendungan yang terperangkap oleh lumpur dan air dan kemungkinan ada korban di area tersebut.

Para pejabat setempat mengatakan helikopter telah mengevakuasi sekitar delapan orang yang terluka dan telah dibawa ke rumah sakit.

Laporan stasiun televisi setempat menunjukkan orang-orang berlarian ketika bendungan itu jebol dan ladang-ladang di dekatnya yang didominasi tanaman kacang hancur oleh lumpur.

Bencana bendungan jebol di wilayah itu bukan pertama kali ini terjadi. Pada 2015, bendungan yang lebih besar jebol dan menewaskan 19 orang.

Dalam insiden tahun 2015, sebuah bendungan yang dimiliki perusahaan patungan Samarco Mineracao SA antara Vale dan BHP Billiton jebol di wilayah yang sama di negara bagian Minas Gerais dan mengubur rumah-rumah di lokasi sekitar.

Badan perlindungan lingkungan Brasil, Ibama, mengatakan bendungan yang jebol pada hari Jumat menampung 1 juta meter kubik tailing, jauh lebih sedikit dari 50 juta meter kubik pada bencana tahun 2015.

Presiden baru Brasil, Jair Bolsonaro, mengirim tiga menteri ke lokasi bencana untuk melihat kerusakan. Bolsonaro juga akan berkunjung pada hari Sabtu (26/1/2019).

Mantan menteri lingkungan hidup dan kandidat presiden Marina Silva mengatakan pihak berwenang Brasil dan penambang swasta belum belajar apa pun dari bencana tahun 2015. Menurutnya, insiden ini tidak dapat diterima.

“Tiga tahun setelah kejahatan lingkungan yang serius di Mariana, dengan investigasi masih berlangsung dan tidak ada yang dihukum, sejarah berulang sebagaimana tragedi di Brumadinho,” katanya dalam sebuah posting di Twitter, seperti dikutip Reuters.

(mas)