Atase Pertahanan Venezuela untuk AS Membelot dari Pemerintahan Maduro

loading…

Atase militer Venezuela untuk AS Kolonel Jose Luis Silva membelot dari pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Foto/Reuters

CARACAS – Atase militer Vanezuela untuk Amerika Serikat (AS) membelot dari pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Pembelotan itu terjadi seiring eskalasi di dalam negeri Venezuela setelah tokoh oposisi Juan Guaido mendklarasikan dirinya sebagai presiden sementara dan mendapat dukungan dari AS dan sejumlah negara lainnya.

Atase militer Venezuela untuk AS Kolonel Jose Luis Silva mengatakan bukannya hanya dirinya yang melakukan pembelotan terhadap pemerintahan Nicolas Maduro. Diungkapkannya seorang konsuler di Houston dan seorang di kota AS lainnya juga mengakui Guaido, namun ia adalah satu-satunya diplomat di Washington yang diketahui telah mengambil langkah itu.

“Petinggi militer dan cabang eksekutif menyandera angkatan bersenjata. Ada banyak, banyak yang tidak bahagia,” kata Silva.

Baca Juga:

“Pesan saya kepada angkatan bersenjata adalah, ‘Jangan menganiaya orang-orangmu.’ Kami diberi senjata untuk mempertahankan kedaulatan bangsa kita. Mereka tidak pernah, tidak pernah melatih kami untuk mengatakan, ‘Ini bagi Anda untuk menyerang orang-orang Anda, untuk mempertahankan pemerintahan saat ini berkuasa,” tuturnya seperti dikutip dari Reuters, Minggu (27/1/2019).

Sementara pemberontakan kecil pasukan bersenjata Venezuela terhadap Maduro pecah dalam beberapa bulan terakhir, namun tidak ada pemberontakan militer berskala besar terhadapnya.

Guaido menyambut Silva dalam sebuah pesan di Twitter dan mendorong orang lain untuk mengikuti langkahnya. Sementara dalam sebuah tweet, Kementerian Pertahanan Venezuela menyebut Silva seorang pengecut, memposting foto dirinya dengan kata “pengkhianat” di atasnya dalam huruf kapital merah.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS Garrett Marquis menyebut pembelotan itu sebagai contoh dari prinsip bahwa peran militer adalah untuk melindungi tatanan konstitusional, bukan untuk menopang para diktator dan menindas rakyatnya sendiri.

“Dorongan bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama,” katanya.

(ian)