AS Ingin Jet Siluman F-35 Bisa Tembak Jatuh Rudal Balistik Antarbenua

loading…

Sebuah pesawat jet tempur F-35C Ligtning II saat melakukan uji coba pelepasan misil. Foto/US Navy via Raytheon

WASHINGTON – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon selama enam bulan ke depan akan mempertimbangkan pengembangan senjata baru untuk pesawat jet tempur siluman F-35. Senjata baru untuk pesawat itu diharapkan bisa menembak jatuh rudal balistik antarbenua (ICBM) musuh di awal penerbangan.

Para pejabat Pentagon di bidang teknologi pengembangan senjata optimistis terhadap prospek tersebut. Mereka telah memberi tahu wartawan pada 17 Januari lalu bahwa senjata baru itu akan efektif secara operasional dan berbiaya rendah.

“Untuk geografi regional tertentu—Korea Utara muncul di benak—kami benar-benar berpikir itu sepenuhnya mungkin dan hemat biaya untuk mengerahkan apa yang secara longgar akan saya sebut interceptor air-to-air, meskipun mungkin desain baru, pada pesawat canggih (dan) menggunakan pesawat baik sebagai sensor atau platform senjata untuk memengaruhi intersepsi rudal,” kata Mike Griffin, Wakil Menteri pertahanan untuk Penelitian dan Rekayasa.

Baca Juga:

“Kami, seperti tersirat dalam laporan itu, akan mempelajarinya lagi, tetapi baru-baru ini saya melihat sejumlah penilaian, beberapa penilaian, yang menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang harus kita perhatikan,” katanya lagi, yang dikutip dari Defense News, Sabtu (19/1/2019).

Missile Defense Review (MDR) atau Tinjauan Pertahanan Rudal dari administrasi Trump yang dirilis hari Kamis juga menggambarkan peran potensial baru yang menarik untuk F-35 Joint Strike Fighter (JSF).

“Jet itu memiliki sistem sensor yang mampu mendeteksi signature inframerah dari sebuah boosting missile dan komputernya dapat mengidentifikasi lokasi rudal yang mengancam,” bunyi ulasan MDR tersebut.

“Ia dapat melacak dan menghancurkan rudal jelajah musuh hari ini, dan, di masa depan, dapat dilengkapi dengan interceptor baru atau modifikasi yang mampu menembak jatuh rudal balistik musuh dalam fase awal penerbangan dan dapat melonjak dengan cepat ke titik-titik panas untuk memperkuat pertahanan aktif AS dan kemampuan operasi serangan,” lanjut ulasan tersebut.

Laporan pengembangan senjata baru itu memberi kesempatan bagi Angkatan Udara dan Badan Pertahanan Rudal AS selama enam bulan untuk memberikan laporan tentang cara terbaik untuk mengintegrasikan F-35 ke dalam arsitektur pertahanan rudal yang lebih besar.

Tidak semua dalam komunitas pertahanan tertarik dengan prospek pelibatan F-35 dalam pertahanan rudal.

Ketika laporan mulai muncul Rabu malam bahwa Pentagon akan mempertimbangkan peran F-35 dalam menembak jatuh ICBM musuh, beberapa analis di komunitas kontrol senjata menolak keras. Konsensus luas di antara para ahli adalah bahwa—meskipun mencegat ICBM dengan Joint Strike Fighter secara teknis layak—itu akan menjadi penggunaan teknologi yang buruk.

Kingston Reif dari Asosiasi Kontrol Senjata mengatakan sepanjang ulasan MDR, Pentagon menunjukkan minat dalam mengembangkan pertahanan rudal fase-pendorong. Namun, dia menunjuk laporan 2012 dari National Academy of Sciences yang mengatakan teknologi seperti itu tidak praktis atau tidak layak.

“Tantangan jangka panjang untuk mengefektifkan fase-pendorong termasuk waktu singkat ICBM dalam penerbangan bertenaga, perlunya platform pertahanan ditempatkan sangat dekat dengan lokasi peluncuran, dan ketersediaan rudal berbahan bakar padat yang terbakar lebih cepat sebagai penanggulangan,” kata Reif.

Singkatnya, F-35, yang dilengkapi dengan pencegat baru, harus ditempatkan sangat dekat dengan lokasi peluncuran rudal agar berada dalam jangkauan pencegatan selama fase pendorong. “Dan akan sangat mahal untuk menjaga pesawat tetap pada patroli yang diperpanjang dan membawa mereka jauh dari misi lain,” katanya.

Drone akan menjadi pilihan yang lebih baik daripada F-35. Dan meski begitu masih akan ada tantangan besar seperti yang dicatat oleh laporan National Academy of Sciences 2012,” imbuh dia.

(mas)