Anak SMA Pendukung Trump Bantah Mengejek Penduduk Asli Amerika

loading…

Sekelompok anak SMA pendukung Presiden Donald Trump dilaporkan mengejek penduduk asli Amerika saat kedua kelompok bertemu di lokasi yang sama. Foto/Screengrab YouTube

WASHINGTON – Seorang siswa sekolah menengah atas (SMA) berkulit putih yang terlihat bersama teman-teman sekelasnya berhadapan dengan seorang penduduk asli Amerika di dekat Lincoln Memorial membantah bahwa dia membuat ejekan dalam pertemuan itu. Siswa itu mengenakan topi khas pendukung Presiden Donald Trump yang bertuliskan “Make America Great Again”.

Menurutnya, video yang viral telah memberikan kesan keliru yang seolah-olah dia dan para temannya sebagai penghasut.

Nick Sandmann, seorang siswa dari Covington Catholic High School (Sekolah Menengah Katolik Covington) yang semuanya beranggotakan pria di Kentucky utara, terlihat dalam video berdiri berhadapan muka dengan aktivis Indian, Nathan Phillips. Dia menatap Philips sambil tersenyum, sedangkan Phillips bernyanyi dan memainkan drum.

Baca Juga:

Dalam kejadian hari Jumat, Philips yang merupakan veteran Perang Vietnam menghadiri pawai adat bernama Indigenous Peoples March. Kelompoknya bertemu dengan para pelajar kulit putih yang menggelar aksi March for Life.

Dalam video yang dibagikan kelompok yang menghadiri Indigenous Peoples March menunjukkan sekelompok pelajar Covington berada di sekitar Phillips dan terlihat membuat ejekan terhadap penduduk asli Amerika itu.

Phillips menceritakan dalam video terpisah bahwa dia mendengar para siswa meneriakkan “bangun tembok itu” selama pertemuan tersebut.

Rekaman itu memicu kemarahan di media sosial dan membuat pihak sekolah mengeluarkan pernyataan mengecam tindakan para siswa dan menjanjikan penyelidikan.

Tetapi Sandmann, yang pernyataannya di Twitter di-retweet oleh penyiar CNN; Jake Tapper, pada hari Minggu malam, bersikeras bahwa video itu disalahtafsirkan.”Yang mengarah pada kebohongan besar yang tersebar tentang keluarga saya dan saya,” tulis Sandman.

Dia membantah bertindak dengan tidak hormat kepada Phillips.

Menurut Sandmann, kelompoknya sedang menunggu bus di tangga Lincoln Memorial untuk kembali ke Kentucky. Pada saat itulah empat pengunjukrasa Afrika-Amerika di dekatnya mulai meneriakinya dengan hinaan rasial.

Dengan izin dari guru pendamping mereka, para siswa merespons dengan meneriakkan yel-yel “semangat sekolah” untuk meredam komentar-komentar kebencian yang diarahkan pada mereka.

Di tengah-tengah interaksi itu, kata Sandmann, dia memerhatikan seorang pengunjuk rasa penduduk asli Amerika yang diidentifikasi sebagai Phillips.”Dia mulai memainkan drumnya ketika dia menyeberang ke kerumunan, yang terpisah darinya,” kata Sandmann.

“Dia mengunci mata dengan saya dan mendekati saya, masuk beberapa inci dari wajah saya. Dia memainkan drumnya sepanjang waktu di wajah saya,” kenang Sandmann.

“Saya tidak pernah berinteraksi dengan pengunjuk rasa ini. Saya tidak berbicara dengannya. Saya tidak membuat gerakan tangan atau gerakan agresif lainnya,” lanjut Sandmann, yang dilansir Reuters, Senin (21/1/2019). Dia mengaku kaget dan bingung mengapa Phillips mendekatinya.

Sandmann mengatakan dia beralasan bahwa dengan tetap tidak bergerak dan tenang, dia berharap bisa meredakan situasi.

Pengakuannya diperkuat, setidaknya sebagian, oleh sebuah laporan New York Times pada hari Minggu yang mengutip Phillips, 64. Penduduk asli Amerika itu mengakui bahwa dia telah mendekati kerumunan siswa dalam upaya untuk meredakan ketegangan rasial yang telah berkobar antara remaja kulit putih dan pengunjuk rasa Amerika-Afrika.

“Saya melangkah di antara untuk berdoa,” kata Phillips, seorang penatua suku Omaha Nebraska. Philips merupakan aktivis terkenal memimpin protes “Standing Rock” pada 2016-2017 terhadap pembangunan pipa minyak di North Dakota.

Phillips sendiri tidak dapat dihubungi oleh Reuters untuk memberikan komentar terkait masalah tersebut.

Sebelumnya, dalam wawancara dengan The Associated Press, Phillips mengatakan kejadian itu adalah akhir yang sulit untuk hari yang hebat, di mana kelompoknya berusaha untuk menyoroti ketidakadilan terhadap penduduk asli di seluruh dunia melalui aksi dan doa.

Dia mengatakan interaksi pertamanya dengan para siswa datang ketika mereka memasuki area yang diizinkan untuk Indigenous Peoples March.

“Mereka saling memberi komentar … (seperti) ‘Di negara saya orang-orang Indian itu tidak lain hanyalah sekelompok pemabuk’. Bagaimana saya melaporkannya?,” kata Philips.

“Orang-orang muda ini hanya melakukan perjalanan kasar melalui ruang kita, seperti apa yang telah terjadi selama 500 tahun di sini, hanya berjalan melalui wilayah kita, merasa seperti ‘ini milik kita’,” paparnya.

(mas)